maaf.
kata ini yang belum aku sempat aku ucapkan di depan matamu.
saat detik itu kamu memutuskan pergi dariku.
maaf.
berbulan ini kata itu menggema dalam kepalaku.
awalnya hanya berupa bisikan kecil hati, namun selalu
terbawa di dalam mimpi.
yang mana selalu ada kamu dalam situ.
maaf.
kata itu bercampur rindu yang berkecamuk setiap pagi aku
membuka mata.
dan setiap malam aku membaca pengantar tidurku.
sebuah doa, tertuju untukmu agar setidaknya kamu
memaafkanku.
maaf.
sungguh tidak ada yang salah dengan diri kita. apalagi
perasaan kita.
hanya saja, semua terasa tidak tepat.
kamu yang terlalu naif, dan aku yang terlalu realistik.
maaf.
jika setiap aku mencoba berbicara denganmu, torehan luka
masih terasa begitu dalam.
yakinlah, aku selalu melihatnya, walau hanya melalui sebait
tulisan di pesan singkat.
maaf.
maafkan aku yang begitu tidak sabar denganmu.
yang tidak mampu menunggu lebih lama lagi, untuk melihatmu
beranjak ke depan.
tahun-tahun yang lalu menjadi ukuran yang cukup untuk
kesabaranku.
maafkan aku yang belum bisa sedikit lebih lama bersabar
kepadamu.
maaf.
sungguh aku tidak buta.
melihat bagaimana perubahan mu. menjadi jauh lebih baik.
dan bagaimana aku berubah, menjadi dirimu tahunan yang lalu.
maaf.
sungguh tak ada sesal. sungguh tak ada keinginan untuk
memaksamu kembali hidup dalam kenangan kita.
maaf.
kita berpisah tanpa menjadi sebuah sahabat.
maafkan aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar